Category Archives: Health and Disease

TREATMENT OF CHICKEN AFTER THE WAR

After the fight, Bangkok Chicken needs more attention, because it is this treatment that determines the career of a fighting chicken in the face of the next battle. Often occurs in post-fighting chickens due to lack of attention making the chicken lose the character of fighting, falling mentally, even more severe defects in the end die.

Stages in this treatment are:
Clean the chicken wound using warm water then coat the head area and areas that are not overgrown with oil wasps. For cuts or tears wipe clean the wound using salt water or hot betel water stew then give the medicine wounds such as, powder Sulfadelamite, Betadine, etc., then give the chicken 1 grain of antibiotics (Amoxilin, Penicylin etc.), Giving antibiotics is done for 3 days respectively to prevent infection of the wound. If there are cuts in the chicken mouth, give a blue medicine (medicine for human saryawan). This blue medicine can be found in the nearest pharmacies.

After that the chicken is placed in a separate cage so that the chicken can rest.

On the 2nd day give chicken vitamins that are liquid if it is solid vitamins can also be thawed and if necessary chicken is given deep wound medicine. Feeding should be in the form of porridge and if the chicken appears not to eat, suapi slowly. Do not give hard food like meat, grain, corn, etc.

After the wound slightly dry the scar with the wound ointment and the above mentioned blue medicine.

On the 5th day the chicken can be removed from the cage then on the umbar sufficiently or place it in a kipu cage (sand floor cage) to stretch the muscles

Day 6 chicken has to be bathed and dried in moderation.

Day 7 chickens have been allowed in cliter sufficiently or in umbar dikandang run.

A week ahead the chicken is allowed to abar empty again.

A week later the chicken was able to fall back fighting.

Thus, hopefully this Chickens After Fight Care tips is useful for you. Greetings.

Advertisements

INFLUENZA CHICKEN (INFECTIOUS CORYZA, SNOT)

PRELIMINARY
Cold sickness in chickens is known as chicken influenza disease, another name is Infectious Coryza or Snot. The organism was first discovered by Beach in 1920.
Actually this disease is rather rare in chickens, but often attacks chicken at all ages, especially 14 weeks of age and adult chickens.
Chickens usually occur in the rainy season or something to do with the cold and humid cage environment.
CAUSE OF BACTERIA
The cause of chicken colds is the bacterium Hemophilus gallinarum
TRANSMISSION
Through direct contact between sick chickens and healthy chickens in one cage.
By air.
Through the cage equipment.
Food and drink contaminated with Hemophillus gallinarum bacteria
Clinical Symptoms
Swelling and edema of the face and eyes.
The nasal cavity gives off a sticky, foul-smelling mucus.
Chickens sneeze and shake their heads to release nasal secretions.
Petal matannya become sticky.
Pineapple in foul-smelling eyes that can swarm around the nostrils and poke around the nostrils and sinuses.
Inflammable sap in trachea and bronchi can produce snoring.
Appetite and drinking decreased resulting in decreased production.
Breathing fast.
Often accompanied by diarrhea and chickens may become dwarfed.
Post-Threat Change
The mucous membranes of the nose and sinus have acute inflammation of the katar.
Inflammation of the eye membrane.
Below the lower bark of the skin on the face and bones.
Pneumonia and inflammation of the air sacs
Diagnosis
Examples of diseases such as nasal tampons from the eyes and nose and tissue from the respiratory tract, especially the windpipe and throat branches, are sent to the laboratory in fresh, cold conditions for the isolation and identification of bacteria. Materials of this examination should be taken from the incidence of new diseases to avoid contamination by secondary bacteria.
Prevention
Chickens are sickly colds separated from healthy chicken cages (groups).
Do not mix chickens of different ages.
The enclosure and the environment must always be clean.
Keep in the cage exposed to the sun.
Treatment in Cutting
Chickens that catch cold can be cut and the meat may be consumed.
Dead chicken carcasses and cutting remains burned or buried.

Flu Burung Serang Ponorogo, Ratusan Ekor Ayam Bangkok Mati

Flu Burung Serang Ponorogo Ratusan Ekor Ayam Bangkok Mati

PONOROGO – Ratusan ekor ayam jago peranakan bangkok milik peternak di Ponorogo, Jawa Timur mati mendadak. Diduga kematian unggas ini terjadi akibat serangan flu burung. Akibat kejadian ini peternak merugi jutaan rupiah peternak pun menghentikan usahanya  karena tak ada modal.

Berdasarkan pengamatan di mana belasan kadang ayam jago milik Sumarno warga Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Ponorogo ini kosong tak terisi karena ayam yang dibudidayakan sudah mati sejak seminggu terakhir. Hanya dua ekor ayam keturunan bangkok yang tersisa itu pun kondisinya sakit.

Kondisi serupa juga dialami puluhan peternak ayam jago lain di desa ini sejak seminggu terakhir ratusan ayam jago mati mendadak.

Awalnya keluar air dari hidung ayam lemas tak bisa berdiri tegak dan tak berkokok, beberapa saat berikutnya ayam mati lemas.

Setelah ayam mati badannya berwarna hitam ke biru biruan.Warga menduga kematian ayam ini akibat wabah flu burung.

Matinya ratusan ayam jago ini membuat peternak rugi sebab harga ayam jago keturunan bangkok ini dijual dengan harga Rp300-500 ribu per ekor.

Seperti yang dialami sumarno akibatnya 21 ekor ayam jagonya mati. Dia menderita kerugian sekitar Rp10 juta.

Sementara waktu ini dia menghentikan usaha ternaknya karena merugi. Meski sudah berlangsung sekitar seminggu dan ratusan ayam sudah mati namun belum ada petugas dinas kesehatan yang datang ke lokasi.

Warga berharap agar pemerintah segera turun tangan untuk menanangani penyebaran  flu burung ini.

ciri ciri ayam yang sehat

Setiap bheboto bisa dipastikan ada cara tersendiri mengindentifikasi bahwa ayam siap untuk tarung dan kesehatanya sudah prima.:
Ciri-cirinya:
1. Pegangan ayam bobotnya sudah turun kebawah.( arah ke kaki)
2. Otot sudah sempurna bila di pegangan di bagian leher ayam akan menkeret ( ototnya melawan)..
3. Otot paha atas kelihatan nonjol keluar.dan padat.
4. Wajah ayam memerah cerah.
5. Brutu merah dan berminyak.
6. Cela jari juga ada merah. Sekitar dengkul juga ada merah .
7. Dan sisik dibawah dengkul umumnya yang bagian luar dari atas urutan 3 s/d 6 ada perbedaan lebih kering ( seperti ada kapur).
Demikian bila ciri-cirinya ayam sudah fit.
8. Kewaspadaan ayam meningkat . Dilihat dari gerak kepalanya.

sumber: http://papaji.forumotion.com/t628-ciri-ciri-ayam-fit

Ayam cacingan

INFEKSI PARASIT

cacingan

Cacingan

Worm Disease

Cacingan pada ayam  dapat disebabkan oleh:

 

–      Ascaridia galli

Infeksi cacing ini terutama menyerang ayam usia 3-4 bulan. Spesimen dari parasit ini kadang-kadang ditemukan dalam telur. Cacing ini berpindah tempat dari usus ke oviduct dan dapat masuk ke dalam telur pada saat pembentukan telur tersebut. Cacing dewasa mudah dilihat dengan mata telanjang karena panjang cacing dewasa mencapai ½ hingga 3 inchi.

Riwayat hidup cacing ini sangat simple. Cacing betina akan meletakan telurnya di usus unggas yang terinfeksi dan akan ikut dikeluarkan bersama tinja. Embrio akan terus berkembang dalam telur tersebut meskipun tidak akan langsung menetas. Larva dalam telur mencapai stadium infektif dalam 2-3 minggu. Telur yang mengandung embryo ini sangat tahan banting bahkan dalam kondisi laboratorium dapat bertahan hingga 2 tahun, sedangkan dalam keadaan biasa akan tetap bertahan hingga 1 tahun bahkan lebih. Hal yang penting di sini adalah desinfektan yang digunakan pada peternakan tidak dapat membunuh/ merusak telur. Unggas akan terinfeksi jika memakan telur cacing ini.

Unggas yang terinfeksi oleh cacing ini akan terlihat lesu, diare dan kurus. Kerusakan utama yang ditimbulkan adalah penurunan efisiensi pakan, namun kematian hanya timbul pada infeksi yang sangat berat.

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi kandang dengan baik dan pemisahan ayam berdasarkan umur. Bersihkan kandang sebersih mungkin jika kandang akan digunakan untuk populasi ayam yang baru.Sedangkan obat yang digunakan adalah preparat piperazine yang hanya dapat memutus rantai penularan dengan membunuh cacing dewasa. Preparat yang biasa kami gunakan dan kami berikan tiap 4 minggu adalah Piperavaks produksi dari Vaksindo. Pemberian obat ini cukup dicampurkan pada air minum.

 

–      Heterakis gallinae

Parasit ini tidak menimbulkan akibat yang serius pada kesehatan ayam. Minimal tidak menimbulkan gejala atau patologi yang signifikan. Cara penularan cacing ini sama dengan Ascaris. Namun telur yang mengandung larva akan infektif dalam 2 minggu. Dalam cuaca yang dingin akan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Parasit ini dapat dibasmi dengan fenbendazole.

–     Capillaria annulata atau Capllaria contorta

Cacing ini sering ditemukan pada esophagus dan tembolok. Parasit ini menyebabkan penipisan dan inflamasi pada mukosa. Pada system gastrointestinal bagian bawah, dapat ditemukan beberapa spesies parasit tetapi biasanya adalah Capillaria obsignata.

Berbeda dengan cacing yang lain, pembentukan embryo memakan waktu 6-8 hari dan akan sangat infeksius untuk peternakan. Kerusakan terparah akan terjadi pada 2 minggu setelah infeksi. Parasit ini akan menimbulkan inflamasi berat dan kadang-kadang terjadi perdarahan. Erosi pada usus akan menyebabkan kematian. Problem yang sering ditimbulkan oleh parasit ini adalah penurunan pertumbuhan, penurunan produksi dan fertilitas.

Sanitasi yang baik merupakan kunci pencegahan yang utama. Pemberian vitamin A dapat memberikan nilai tambah. Parasit ini dapat dibasmi dengan menggunakan fenbendazole atau leviamisole.

Secara umum, seorang penulis menggambarkan gejala penyakit cacingan pada ayam adalah sbb:

–     tubuh ayam menjadi kurus

–     nafsu makan berkurang

–     sayap kusam dan terkulai

–     kotoran encer, berlendir berwarna keputihan dan kadang berdarah

–     pertumbuhan lamban

Untuk menghindari penyakit tersebut disarankan pemberian jamu pawang jago setiap hari 1 butir di sore hari menjelang tidur

Untuk pengobatan pemberian 1 butir pagi hari dan sore/ malam hari

INFEKSI PROTOZOA Berak Darah/ Koksidiosis

Berak Darah/ Koksidiosis

INFEKSI PROTOZOABerak darah atau sering disebut dengan koksidiosis disebabkan oleh protozoa dari genus Eimeria. Penularan penyakit ini dapat melalui kontak secara langsung maupun tidak langsung seperti kontak dengan droplet dari unggas yang terinfeksi. Pada saat unggas memakan koksidia, organisme ini akan menginvasi usus dan mengakibatkan kerusakan dan kemudian mulai berkembang biak. Beberapa minggu setelah terjadinya infeksi, koksidia akan berubah menjadi oocyst. Oocyst masih belum cukup matur, meskipun  oocyst  terdapat pada droplet, oocyst ini tidak dapat menginfeksi unggas lain kecuali ia berkembang  (sporulasi) menjadi bentuk yang lebih matang di litter. Bentuk inilah yang dapat menyebabkan infeksi pada unggas. Berat tidaknya penyakit ini tergantung dari jumlah protozoa yang termakan. Di dalam peternakan, penyakit ini sangat mudah ditularkan melalui alas kaki, baju, burung liar, peralatan, tempat pakan, serangga atau rodent.

Gejala yang timbul pada penyakit ini adalah sbb:

–     kotoran lembek cenderung cair dan berwarna coklat kehitaman kerena mengandung darah

–     pertumbuhan terhambat

–     napsu makan menurun

–     pada pembedahan ayam yang mengalami kematian akibat penyakit ini akan ditemukan pada usus besarnya akan bengkak berisi darah.

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi pada ayam pada usia 4 hari. Biasanya kami akan memberikan vaksinasi ini dengan melakukan penyemprotan pada pakan. Selain itu harus dilakukan sanitasi yang baik pada kandang DOC. Pilihlah pakan yang sudah mengandung koksidiostat ( preparat pembunuh protozoa Eimeria).

Untuk menghindari penyakit tersebut disarankan pemberian jamu pawang jago setiap hari 1 butir di sore hari menjelang tidur

Untuk pengobatan pemberian 1 butir pagi hari dan sore/ malam hari

Marek (Visceral Leukosis)

Marek (Visceral Leukosis)

Marek (Visceral Leukosis)

Disebabkan oleh virus tipe DNA yang tergolong herpes tipe B. Marek diidentikan dengan penyakit anak ayam, meskipun demikian penyakit ini juga dapat menginfeksi ayam yang lebih tua. Anak ayam terserang adalah kelompok umur 3-10 minggu. Umur 8-9 minggu merupakan umur yang paling rawan. Penularan dapat terjadi secara kontak langsung, kotoran ayam, debu dan peralatan kandang.

 

Marek dapat menimbulkan beberapa variasi gejala klinis, antara lain:

–    Marek tipe visceral

Ditandai dengan lesi pada gonad, hati, limpa, ginjal dan kadang-kadang pada jantung, paru dan otot. Penyakit ini biasanya akut, rupanya unggas yang sehat akan mengalami kematian secara cepat dengan tumor internal yang masif.

 

–     Marek tipe neural

Ditandai dengan kelumpuhan yang progresif pada sayap, kaki dan leher. Penurunan berat badan, anemia, kesulitan bernapas dan diare merupakan gejala yang sering ditemukan .

 

–    Ocular leucosis atau “gray eye”

Morbiditas dan mortalitas biasanya sangat kecil tetapi disebutkan mendekati 25%. Gejalanya dikarakteristikan dengan spotty depigmentation atau diffuse graying pada iris mata. Pupil mata berbentuk irregular dan gagal bereaksi terhadap cahaya. Diare berat dan kematian.

–     Skin leukosis

Pembesaran folikel bulu karena akumulasi limfosit.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan vaksinasi pada DOC berumur 1 hari dengan vaksin Cryomarex HVT atau Cryomarex Rispens.Ayam yang terinfesi sebaiknya dimusnahkan agar tidak menularkan ke ayam yang sehat.

Untuk menghindari penyakit tersebut disarankan pemberian jamu pawang jago setiap hari 1 butir di sore hari menjelang tidur

Untuk pengobatan pemberian 1 butir pagi hari dan sore/ malam hari

 

Avian Pox

Avian Pox

Avian PoxAvian pox mempunyai daya sebar yang relatif lambat. Avian pox disebabkan oleh minimal 3 strain atau tipe yaitu: fowl pox virus (virus cacar pada unggas), pigeon pox virus (virus cacar pada burung dara) dan canary pox virus (virus cacar pada burung kenari). Biasanya cacar yang terjadi pada ayam disebabkan oleh fowl pox virus. Virus ini dapat ditularkan secara langsung maupun tidak langsung. Virus ini sangat resisten pada keropeng yang kering dan dalam beberapa kondisi dapat hidup hingga beberapa bulan. Virus ini dapat ditransmisikan melalui beberapa spesies nyamuk. Nyamuk ini akan membawa virus yang infeksius ini setelah nyamuk tersebut menggigit unggas yang terinfeksi.

Meskipun fowl pox penyebarannya relatif lambat, kawanan unggas ini dapat berpengaruh selama beberapa bulan. Perjalanan penyakit ini memerlukan waktu sekitar 3-5 minggu.

Gejala yang didapatkan pada penyakit ini adalah:

–     pertumbuhan yang lambat pada unggas muda

–     telur menurun pada periode layer

–     kesulitan bernapas dan makan

–     dry pox, dimulai dari “small whitish foci” dan kemudian berkembang menjadi “wart-like nodules”. Nodule tersebut kemudian akan mengelupas dalam proses penyembuhan. Lesi ini biasanya terlihat pada bagian tubuh yang tidak berbulu seperti lubang telinga, mata , jengger, pial dan kadang-kadang ditemukan di kaki.

–     wet pox diasosiasikan dengan cavitas oral dan traktus respiratorius bagian atas, terutama pada laryng dan trakea.

Langkah pencegahan yang utama adalah memberikan vaksinasi pada ayam. Pemberian vaksinasi dilakukan dengan melakukan penusukan pada sayap dengan jarum khusus

Untuk menghindari penyakit tersebut disarankan pemberian jamu pawang jago setiap hari 1 butir di sore hari menjelang tidur

Untuk pengobatan pemberian 1 butir pagi hari dan sore/ malam hari

Bronchitis Infectious Bronchitis

BronchitisBronchitis

Infectious Bronchitis

Penyakit ini disebabkan oleh Corona virus yang menyerang system pernapsan. Pada ayam dewasa penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi pada ayam berumur kurang dari 6 minggu dapat menyebabkan kematian. Informasi yang lain menyebutkan bahwa ayam yang terserang penyakit ini dan berumur di bawah 3 minggu, kematian dapat mencapai 30-40%. Penularan dapat terjadi melalui udara, peralatan, pakaian. Virus akan hidup selama kurang 1 minggu jika tidak terdapat ternak pada area tersebut. Virus ini mudah mati karena panas atau desinfektan.

Gejala penyakit IB ini sangat sulit untuk dibedakan dengan penyakit respiratory lainnya. Secara umum gambaran penyakit tersebut adalah:

–       batuk

–       bersin

–       rattling

–       susah bernapas

–       keluar lendir dari hidung

–       terengah-engah

–       napsu makan menurun

–       gangguan pertumbuhan

–       pada periode layer akan didapatkan produksi telur yang sangat turun hingga mendekati zero dalam beberapa hari, butuh waktu sekitar 4 minggu agar ayam kembali berproduksi, bahkan beberapa diantaranya tidak akan kembali ke normal. Telur yang dihasilkan akan berukuran kecil, cangkang telur lunak, bentuk telur menjadi irregular.

Sanitasi merupakan factor pemutus rantai penularan penyakit karena virus tersebut sangat rentan terhadap desinfektan dan panas. Pencegahan lain yang sangat umum dilakukan adalah dengan memberikan vaksinasi secara teratur.

Untuk menghindari penyakit tersebut disarankan pemberian jamu pawang jago setiap hari 1 butir di sore hari menjelang tidur

Untuk pengobatan pemberian 1 butir pagi hari dan sore/ malam hari

Gumoro Infectious Bursal Disease

Gumoro Infectious Bursal DiseasePenyakit ini menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama bagian fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh ayam. Pada kerusakan yang parah, antibody ayam tersebut tidak terbentuk. Karena menyerang system kekebalan tubuh, maka penyakit ini sering disebut sebagai AIDSnya ayam. Ayam yang terkena akan menampakan gejala seperti gangguan saraf, merejan, diare, tubuh gemetar, bulu di sekitar anus kotor dan lengket serta diakhiri dengan kematian ayam.

Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus dari genus Avibirnavirus. Di dalam tubuh ayam, virus ini dapat hidup hingga lebih dari 3 bulan, kemudian akan berkembang menjadi infeksius. Gumoro memang tidak menyebabkan kematian secara langsung pada ayam, tetapi infeski sekunder yang mengikutinya akan menyebabkan kematian dengan cepat karena kekebalan tubuhnya tidak bekerja.

Seorang penulis menyebutkan bahwa gumoro menyerang anak ayam pada usia 2 – 14 minggu dengan gejala awal sbb:

–     napsu makan berkurang

–     ayam tampak lesu dan mengantuk

–     bulu tampak kusam dan biasanya disertai dengan diare berlendir yang mengotori bulu pantat

–     peradangan di sekitar dubur dan kloaka.biasanya ayam akan mematoki duburnya sendiri.

–     jika tidur, paruhnya menempel di lantai dan keseimbangan tubuhnya terganggu.

Sedangkan penulis yang berbeda menyebutkan gejala gumoro adalah sbb:

–     diare berlendir

–     nafsu makan turun

–     gemetar dan sukar berdiri

–     bulu di sekitar anus kotor

–     ayam suka mematuk di sekitar kloaka

Penulis yang lain menyebutkan bahwa gumoro dapat dibagi 2 yaitu gumoro klinik dan sub klinik. Gumoro klinik menyerang anak ayam berumur  3-7 minggu. Pada fase ini serangan terhadap kekebalan tubuh ayam tersebut hanya bersifat sementara antara 2-3 minggu. Gumoro subklinik menyerang anak ayam berumur 0-3 minggu. Penyakit ini paling menakutkan karena kekebalan tubuh ayam dapat hilang secara permanen, sehingga ayam dengan mudah terserang infeksi sekunder.

Gumoro menyebar  melalui kontak langsung, air minum, pakan, alat-alat yang sudah tercemar virus dan udara. Yang sangat menarik adalah gumoro tidak menular dengan perantaraan telur dan ayam sudah sembuh tidak menjadi “carrier”. Upaya penanggulangan gumoro ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu vaksinasi, menjaga kebersihan lingkungan kandang.

Untuk menghindari penyakit tersebut disarankan pemberian jamu pawang jago setiap hari 1 butir di sore hari menjelang tidur

Untuk pengobatan pemberian 1 butir pagi hari dan sore/ malam hari