Arsip Tag: ayam juara

Cara Meruncingkan Jalu Ayam Bangkok Aduan Dengan Cepat

Dalam artikel kali ini kami akan membahas mengenai cara meruncingkan jalu ayam dengan cepat. Sebab jalu merupakan salah satu senjata yang digunakan ayam aduan yang alami untuk menyerang musuhnya di dalam suatu pertarungan ayam aduan. pada umumnya ayam aduan yang memiliki pukulan jalu akan mempunyai kesemapatan yang besar untuk memenangkan pertandingan. apalagi kalau ayam aduan tersebut memiliki jalu yang runcing dan tajam. Pasti dalam satu serangan bisa membuat lawan terluka parah.

Banyak sekali cara untuk membuat jalu ayam aduan menjadi runcing, salah satunya yaitu dengan menggunakan pecahan piring ataupun menggunakan pisau jalu. Caranya yaitu dengan memegang kedua kaki ayam aduan. lalu kita bisa mulai mengerok dengan pelan – pelan, jangan sampai terlalu dalam sebab bisa membuat ayam aduan kesakitan. Setelah selesai di kerok jalunya, baru kita amplas jalu tersebut sampai halus. Akan tetapi sebelum diruncingi sebaiknya kita harus tahu dan paham ayam tersebut masuk kedalam ayam tipe pukul atau tipe jalu. Supaya kita bisa memberikan perawatan yang tepat.
Setelah kita mengetahui ayam tersebut tergolong kedalam tipe jalu. Kita bisa mempersiapkan senjata pertarungannya yang alami yaitu taji dan paruh. Taji hanya muncul pada ayam bangkok jago. Dan juga ayam bangkok yang akan tubuh jalunya pasti akan menunjukan beberapa ciri – ciri seperti ada benjolan dan ketika ayam sudah dewasa tajinya akan muncuk. Sebelum si ayam layak dibilang sebagai ayam aduan, maka kita jangan pernah mengolah secara manual taji sendiri.
Kita bisa saja membiarkan jalu ayam kesayangan tumbuh sendiri, karena taji yang dimiliki ayam aduan pertumbuhannya hampir sama dengan kuku manusia. Untuk menunjang pertumbuhan jalu ayam, kita bisa berikan Kutek Oil agar jalu ayam cepat tumbuh dan kuat. Bila taji ayam tidak kuat maka kemungkinan besar taji tersebut bisa copot ataupun patah. Bila jalu ayam aduan copot, anda bisa berikan Jalu Sambung supaya bisa bertarung di arena laga. Setelah ayam siap untuk ditarungkan maka taji bisa bisa diruncingkan dengan cara di amplas dengan amplas bangunan yang paling halus. Kita harus hati – hati ketika sedang meruncingkan jalu ayam aduan. sebab jalu terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan dalam jalu yang lunak dan juga lapisan luar yang paling keras.
Bila lapisan yang paling keras pada jalu ayam aduan rusak, maka jalu tersebut akan tumpul seperti kuku jari yang kita potong dengan gunting kuku. Sedangkan bila jalu ayam terlalu tipis, maka ayam aduan bisa merasakan sangat nyeri dan sakit. Ayam aduan tersebut sudah bisa dipastikan tidak akan bisa mengalahkan lawan di gelanggang adu. Cara merawat taji ayam aduan yang baik dan benar yaitu dengan melumuri jalu dengan minyak rasional untuk membuat jalu menjadi kuat dan kokoh, atau bisa juga dengan Sf Oil supaya jalu ayam menjadi keras dan kuat.
Selain dengan membaluri dengan minyak rasional, perawatan jalu ayam aduan juga bisa dengan mengkompres taji tersebut dengan minyak rasioanl, tetapi kita harus sangat hati – hati sebab dalam pengompresan yang kita lakukan menggunakan zat kimia. Kalau kita melakukan kesalahan sedikit saja bisa berdampak yang sangat buruk bagi ayam aduan, dan bisa membuat jalu rusak dan tidak kuat.
Demikian ulasan yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini tentang cara meruncingkan jalu ayam aduan denagn cepat. Semoga ulasan diatas bisa berguna bagi para pembaca sekalian. Terima kasih

Bagaimana sebuah Ayam Aduan Memukul Lawan

Kaki ayam berbeda dengan bentuk manusia, dalam hal ini bentuk lututnya.  Dalam sebuah pertarungan ayam jantan akan menyerang ayam jantan lainya dengan sebuah pukulan atau tendangan.

berikut ini video sebuah ayam yang melakukan pukulan terhadap ayam jago lainya.

dalam video terlihat ayam aduan jenis bangkok memukul ayam lawan dibagian leher atau kepala.

berikut videonya:

 

Sejarah Sabung Ayam Di Nusantara Bukan Sekedar Permainan Semata

Sabung Ayam di Bali 1915 (Koleksi http://www.kitlv.nl)

Adu Ayam Jago atau biasa disebut sabung ayam merupakan permainan yang telah dilakukan masyarakat di kepulauan Nusantara sejak dahulu kala. Permainan ini merupakan perkelahian ayam jago yang memiliki taji dan terkadang taji ayam jago ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing. Permainan Sabung Ayam di Nusantara ternyata tidak hanya sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tetapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, budaya maupun politik.

Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berasal dari folklore (cerita rakyat) Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam. Ayam Cindelarasdiadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dengki sang selir.

Sabung ayam juga menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya adalah pertunjukan sabung ayam. Peraturan yang berlaku adalah siapapun yang akan masuk kedalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelum Anusapati berangkat ke arena sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati menasehati anaknya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tetapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya. Pada saat itu diarena terjadi kekacauan dan akhirnya peristiwa yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi dimana kekacauan tersebut merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri. Kemudian jenasah Anusapati dimakamkan di Candi Penataran dan kejadian itu tetap dikenang orang, Anusapati adalah kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan memiliki kesukaan menyabung ayam. Memang dalam cerita rakyat terutama Ciung Wanara mengisahkan bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu juga Anusapati bukan kalah dalam adu ayam tetapi dalam permainan ini ia terbunuh.

Sedangkan di Bali permainan sabung ayam disebut TajenTajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

Tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200.

Serupa dengan berbagai aktivitas lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pedoman yang bersandar pada dasar sastra. Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya pun banyak disebut dalam berbagai lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menyebutkan, dalam tilem kesanga (saat bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali). Bathara Siwa mengadakan yoga, saat itu kewajiban manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilaksanakan Nyepi sehari. Yang diberi kurban adalah Sang Dasa Kala Bumi, karena jika tidak, celakalah manusia di bumi ini.

Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan kelengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.

Dalam kebudayaan Bugis sendiri sabung ayam merupakan kebudayaan telah melekat lama. Menurut M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Hingga Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.

Dalam kitab La Galigo diceritakan bahwa tokoh utama dalam epik mitik itu, Sawerigading, kesukaannya menyabung ayam. Dahulu, orang tidak disebut pemberani (to-barani) jika tidak memiliki kebiasaan minum arak (angnginung ballo), judi (abbotoro’), dan massaung manu’ (adu ayam), dan untuk menyatakan keberanian orang itu, biasanya dibandingkan atau diasosiasikan dengan ayam jantan paling berani di kampungnya (di negerinya), seperti “Buleng – bulengna Mangasa, Korona Mannongkoki, Barumbunna Pa’la’lakkang, Buluarana Teko, Campagana Ilagaruda (Galesong), Bakka Lolona Sawitto, dan lain sebagainya. Dan hal sangat penting yang belum banyak diungkap dalam buku sejarah adalah fakta bahwa awal konflik dan perang antara dua negara adikuasa, penguasa semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dan Bone diawali dengan “Massaung Manu”. (Manu Bakkana Bone Vs Jangang Ejana Gowa).

Pada tahun 1562, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara ’massaung manu’. Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam tersebut. Taruhan Raja Gowa 100 katie emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Sabung ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma. Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).

Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’ oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya, tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo, Teko, serta negeri Tellu Limpoe.

Rupanya sabung ayam pada dahulu kala di Nusantara bukan hanya sebuah permainan rakyat semata tetapi telah menjadi budaya politik yang mempengaruhi perkembangan sebuah dinasti kerajaan.

————————————-00000000000000000000———————————————————-