Arsip Tag: ayam peliharaan

Rizal Curi Ayam Satu Kandang Milik PT Ciomas Adi Satwa

Rizal Curi Ayam Satu Kandang Milik PT Ciomas Adi Satwa

SRIPOKU.COM, MUARAENIM— Rizal Saputra (28) warga Desa Payabakal, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muaraenim, berhasil mencuri ayam satu kandang sekitar 300 ekor milik PT Ciomas Adi Satwa, di Desa Payabakal, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muaraenim.

Dari informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, Rabu (29/6/2016) bahwa aksi pencurian tersebut diketahui Jumat (3/6) sekitar pukul 07.00, oleh karyawan PT Ciomas Adi Satwa ketika melihat ada pagar seng di PT Ciomas yang sudah rusak.

Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ayam milik PT Ciomas sekitar 300 ekor telah hilang dari kandangnya. Dan atas kejadian tersebut PT Ciomas melaporkan hal tersebut ke Polsek Gelumbang.

Berdasarkan laporan tersebut, anggota reskrim melaksanakan lidik di lapangan untuk mencari pelaku, dan dari hasil lidik tersebut diketahui jika pelakunya adalah Rizal Saputra yang memang sering melakukan aksi pencurian ayam di PT Ciomas.

Kemudian petugas yang dipimpina langsung oleh Kapolsek Gelumbang AKP Robi Sugara di dampingi Kanit Reskrim Ipda Emir Maharto Bustarosa, melakukan pengejaran dan berhasil menangkap pelaku di rumahnya.

Kapolres Muaraenim AKBP Hendra Gunawan didampingi Kasubag Humas Iptu Arsyad Agus, mengatakan  pelaku memang dikenal sudah sangat meresahkan warga masyarakat. Atas perbuatannya pelaku akan dikenakan pasal 363 KUHP.

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Tarso
Iklan

Ayam hutan

Ayam hutan adalah nama umum bagi jenis-jenis ayam liar yang hidup di hutan. Dalam bahasa Jawa disebut dengan nama ayam alas, dalam bahasa Madura ajem alas, dan dalam bahasa Inggris junglefowl; ayam kampung juga adalah dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) ,semuanya merujuk pada tempat hidupnya dan sifatnya yang liar.

Generasi pertama ayam atau nama saintifiknya Gallus domesticus adalah dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) . Dengan kemasukan pedagang-pedagang dari Negeri China lahirlah generasi kedua ayam kampong iaitu kacukan di antara ayam kampong generasi pertama dengan ayam kampong Canton dari Negeri China. Generasi ketiga ayam kampong adalah terhasil dari kacukan beberapa baka asli dari luar negeri yang dibawa oleh penjajah Eropah dengan generasi kedua ayam kampong. Dengan ketiadaan sistem kacukan yang dirancang dan terkawal maka terhasillah berbagai-bagai ayam kampong yang dapat kita lihat hari ini . Adalah sukar untuk menghuraikan jenis-jenis ayam kampong dari sifat-sifat fizikalnya. Perbezaan ketara adalah dari saiz badan juga menjadikan ayam kampong mempunyai ciri-ciri keunikannya tersendiri. Maka lahirlah berbagai gelaran ayam kampong seperti Ayam Botak, Ayam Bulu Balik, Ayam Selasih, Ayam Janggut, Ayam Laga atau Sabung, Ayam Togel, ayam Katik atau Ayam Jepun dan bermacam-macam lagi gelaran mengikut tempat dan loghat. Aktiviti penternakan ayam kampong telah ujud zaman berzaman sejak datuk nenek kita dahulu.

Ayam-ayam ini dari segi bentuk tubuh dan perilaku sangat serupa dengan ayam-ayam peliharaan, karena memang merupakan leluhurdari ayam peliharaan. Jantan dengan betina berbeda bentuk tubuh, warna dan ukurannya (dimorfisme seksual, sexual dimorphism). Ayam hutan jantan memiliki bulu yang berwarna-warni dan indah, berbeda dengan ayam betinanya yang cenderung berwarna monoton dan kusam.

Sejarah Ayam Onagadori

Sejarah Ayam Onagadori

AyamOnagadori – Percayakah anda jika ada unggas yang memiliki ekor sepanjang 20 kaki? Para peternak dibarat daya Jepang telah membiakkan unggas ini semenjak tiga abad lalu. Seekor ayam yang indah, berevolusi dari jenis ayam domestik biasa, unggas berekor panjang biasanya berwarna hitam dan putih tetapi ada juga yang berwana merah dan hitam atau seluruhnya berwarna putih.orang jepang menamakan Onagadori dari “O” yang berarti ekor, “naga” yang berarti panjang dari “dori” yang berarti unggas. Hanya ayam jantan saja yang bisa memanjangkan ekornya. Saya adalah fisiolog burung yang adalah peranakan Jepang, meskipun perbendaharaan kata Jepang saya terbatas. saya menjadi tertarik dengan unggas berekor panjang ini saat kunjungan ke Universitas Nagoya tahun 1967, saat itu penelitian mengenai ayam ini sedang berjalan.dengan dukungan dari National Geographic Society,saya kembali lagi ke Jepang bulan april 1970 untuk mempelajari lebih dalam mengenai unggas ini.rencana saya termasuk membawa beberapa telur ayam ini ke Amerika Serikat.penetasan telur yang sukses dapat memberi peluang bagi negara Amerika Serikat memiliki agar memiliki stok bagi penelitian di bidang genetik,pertumbuhan sel,dan proses perubahannya.saya berangkat ke Jepang membayangkan gambaran yang keliru.dari foto yang pernah saya lihat mengenai ayam berekor panjang menunjukkan unggas itu bertengger di atas lampu ukir batu atau dahan pohon pinus dengan pemandangan latar pelataran sebuah kuil.dari foto ini sayaa memiliki anggapan bahwa onagadori telah menjadi peliharaan para biksu dari sekte religius tertentu.tidak begitu.saya dengan cepat menyadari bahwa ayam ini menjadi peliharaan kegemaran bagi pengagum dan penghoby,yang mana kebanyakan dari mereka tidak bisa seenaknya memajang si ekor panjang di kediaman mereka yang biasa-biasa saja ,dan maka dari itu mereka membawa piaraan mereka ke tempat-tempat yang sesuai dengan kemegahan bulu unggas mereka seperti latar belakang kuil guna diabadikan.

Keterbatasan gerak si ekor panjang

Satu yen guna keunikan tersendiri melanda hampir seluruh peternak unggas ini.mereka berkonsentrasi untuk menciptakan perubahan warna ataupun supaya ekornya lebih panjang lagi,atau daya upaya menciptakan unggas yang dapat memenuhi kriteria spesifik penjurian dalam standard pertandingan. Ditemani oleh juru foto Eiji Miyazawa dan penterjemah Syuichi Itoh,saya melakukan perjalanan dari daerah barat daya kota Tokyo menuju kota Kochi di pulau Shikoku.Untuk bertemu dengan seseorang yang sudah berhasil mencapai suatu perubahan warna yang menakjubkan,sebuah keahlian yang disebut pembiakan eksperimental.Hampir semua Onagadori di Jepang adalah anakan dari unggasnya Masashi Kubota.Pak Kubota telah setuju untuk menginijinkan kami melihat dan mengabadikan koleksi unggasnya yang luar biasa,diternakkan selama bertahun-tahun dengan metode pembiakan selektif.Beliau membiakkan ketiga varietas utama dari si ekor panjang ini si hitam putih Shirafuji dan jenis lain yang muncul dari jenis ini,si merah hitam Akasa Onaga dan si putih salju Shiro-onaga.Pak Kubota menyimpan hampir seluruh piaraannya di gedung Onagadori Center yang baru,disebelah jalan raya dibagian kota Kochi daerah yang disebut Nankoku.Para pelancong mampir untuk minum teh dan membeli roti sandwich buatan slah satu anak perempuan Pak Kubota yang menawan.Dengan tambahan biaya 30 sen,para pelancong bisa memasuki ruangan showroom gedung itu untuk melihat koleksi si ekor panjang yang ada.Kami berjumpa dengan Pak Kubota di gedung Onagadori Center,dan dia menuntun kami melewati ruang minum teh menuju ke showroom dibelakangnya, yang di desain khusus untuk pembiakan dan untuk memamerkan koleksi unggas-unggasnya yang bernilai tersebut.”Tak ada suatu rahasia mengenai pembiakan ayam berekor panjang ini”, dia mengatakan kepada kami. “Siapapun orangnya dia harus meilii koleksi unggas yang baik dan mencari ayam yang tenang dan tidak terlalu gaduh, dan orang itu harus memastikan unggasnya tetap berada dalam kondisi yang sehat dan terus melatih unggasnya untuk tahan terhadap kondisi terkurung”.Beberapa ayam tampak di depan kami menatap dari balik kotak tinggi yang khusus di buat seukuran ayam.Sebuah pintu kaca memungkinkan kami untuk dapat melihat isi kotak sempit itu , ekor ayam itu bergulung dalam bundaran-bundaran yang dikaitkan pada cantolan didinding kotak. Terkecuali kalau perlu dilatih atau dipamerkan, ayam-ayam disimpampan terus dikotak secara konstan untuk melindungi bagian ekornya yang panjang sekali itu.Jika unggas itu menjadi sakit atau jatuh dari tempat bertenggernya, ekor panjangnya yang bagus itu bisa patah/putus.Tampak dibaris sebrangnya ayam pejantan dengan ekor penjepit menikmati kebebasan gerak yang lebih. Ayam yang dipilih untuk pembiakan biasanya mereka yang tidak tahan berada dilingkungan yang dikurung seperti didalam kotak.

Ayam bangsawan membutuhkan punggawanya.

Kami menemani Pak Kubota selagi dia mengambil seekor ayam jenis Shiro-Onaga putih untuk diajak jalan-jalan dihalaman belakang rumahnya.Beliau membopong ekor ayam itu yang panjangnya 25 kaki seperti punggawa yang mengikuti kemana rajanya berjalan, guna melindungi bulu-bulu ekor tersebut agar tidak tersangkut diantara batu-batu tajam.Di gedung Onagadori Center Pak Kubota memperlihatkan kepada kami penyimpanan telur-telur Onagadorinya, yang anehnya untuk setiap pejantan si betina akan memproduksi 2 betina.Telur-telur ini lebih kecil dibanding telur ayam biasa, yang mana sangatlah sulit untuk ditetaskan.Saya merasa sangat tersanjung ketika si pemilik memberi 30 telurnya untuk dibawah ke Amerika Serikat.Hikayat Onagadori di Jepang dimulai 200 tahun lalu, saat ayam khusus ini dikembang biakkan dari ayam lokal.Arak-arakan kebesaran feodal pada abad ke17 tampaknya memacu perkembangan setiap tahun tuan-tuan tanah harus melayani sebagai pembantu pribadi untuk shogun, hidup dengan istri mereka dan anak-anaknya di istana.Para punggawa pembawa tombak membawa senjata yang didekorasi dengan indah memimpin iring-iringan rombongan ke Edo (sekarang Tokyo).Bangsawan Yamanouchi, tuan tanah kedua dari daerah Kochi, mencari patokan penanda yang lain dari yang lain,menginginkan bulu si ekor panjang. Dia memerintahkan penghargaan  bagi ayam berekor panjang, dan menyuruh anak buahnya membuat hiasan  dari bulu si ekor panjang bagi ujung pisau tombak seremonialnya.Yang dianggap sebagai pengembang sebenarnya dari si ekor panjang adalah Riemon Takechi,yang hidup sekitar 1655 dalam pemerintahan bangsawan Yamanouchi.Sebuah monumen patung terbuat dari batu dari Takechi berdiri dekat rel kereta api listrik antara Kochi dan Nankoku.Dua ekor ayam berekor panjang dipahat disisinya menghadap ke arah kereta yang lewat.
Takechi menyibukkan diri dengan membiakkan ayam sehingga mempunyai ekor yang panjang.
Bulu ekor ayam ekor panjang di abad ke 17 kemungkinan adalah varitas Shokoku tidak lebih panjang 3 kaki.Jenis Shokoku adalah salah satu varitas yang masih bertahan keberadaannya yang lainnya varitas Minohiki,Totenko,Kuro Gashiwa,dan Ohiki – semua memiliki gen untuk memanjangkan ekornya.Tetapi unggas-unggas ini berganti bulu setiap tahunnya, dan demikianlah tidak sanggup menyamai Onagadori asli ,yang bisa mempertahankan ekor yang sama sepanjang hidupnya.

Bertahan hidup walaupun terancam oleh perang

Berakhirnya feodalisme di abad ke 19 menghapus permintaan bagi bulu Ayam Onagadori.Walaupun begitu tradisi memelihara ayam ini entah bagaimana caranya menemukan secara kebetulan yaitu suatu kombinasi genetik yang mengarah kepada trah ayam berekor panjang yang asli.Tahun 1908 para peternak unggas  ini membentuk Asosiasi Pelestarian Unggas Berekor Panjang.
Baru kemudian tahun 1923 pemerintah Jepang melindungi unggas ini dengan menjadikannya sebagai obyek  Pelestarian  Alam.Masa-masa  kekacauan  akibat Perang Dunia II hampir saja memusnahkan unggas ini , tetapi kemudian asosiasi pelestarian dibangkitkan kembali,dan sebuah peraturan pemerintahan tahun 1952 mengaangkat Onagadori  sebagai sebuah Obyek Spesial Pelestarian Alam.
Hari ini populasi unggas berekor panjang di Jepang tampak disan sini, walau diseantero negri tidak lebih dari dua lusin para penggemar dan peternak unggas ini.Pengembangbiakan  unggas ini terkonsentrasi di kawasan Kochi dan sekitar daerah Ise untuk bertemu dengan Motokaka Kawanami(hal.berikut), yang memelihara Onagadori dengan tujuan utama mencapai panjang ekor secara  maksimum (hal.845 dan 854).Beliau dengan bangga memperlihatkan jenis merah dan hitam Akazasa yang megah.
“Saya memiliki stok yang sangat sedikit,”pak Kawanami menjelaskan.Tahun lalu dengan jumlah stok ini  saya hanya mendapatkan 15 telur dan hanya bisa mendapat dua betina untuk diternakkan.”
Akhirnya , di kota Nagoya, kami mengunjungi  rumah apartemen Bu Isamu Kawamura, yang  memelihara unggas berekor panjang  ini dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas mereka di depan para juri pertandingan-seperti warna helai bulu,tipe gelombang ekornya dan ukuran tubuh ayam tersebut.
Pak Kawamura sedang di kantor  saat kunjungan kami tersebut,tetapi bu Kawamura sempat menunjukan  ketiga kotak tempat ayam , yang dengan jenius diletakkan di bagian  belakang flat mereka yang sempit.Pada waktu itu dua ayam jenis putih dan hitam Shirafuji tampak ada disana(gambar bawah).
Selagi kami mencicipi teh hijau di ruang tamu ,lima ayam yang telah diawetkan memandang ke arah kami.Piala-piala yang dimenangkan oleh unggas-unggas ini dipamerkan dalam sebuah almari yang sudah hampir penuh , dan sebuah sanjak yang memenangkan perlombaan sajak tingkat nasional tergantung di dinding.
“Apa para tetangga ada yang keberatan mengenai anda memelihara unggas di rumah susun ini?” saya menanyakan kepada Bu Kawamura.
“Tidak, mereka sangat pengertian.Mereka tahu bahwa saya dan suami saya sangat menyukai ayam-ayam ini. Tapi  kami kuatir suara kokok mereka saat fajar akan menggangu tetangga disekitar kami.”
Setelah 5 minggu di Jepang, saya terbang kembali ke Amerika dengan 30 telur Onagadoriku yang dibungkus dalam stereofoam.
Sekarang, di laboratorium Universitas Kalifornia di kota Davis 15 ayam telah menetas dari telur-telur itu anak ayam yang berpotensi bagi suatu riset penelitian.
Hippokrates di abad ke lima sebelum masehi  mengemukakan ilmu pengetahuan mengenai embiriologi dengan beberapa deduksi yang dibuatnya berdasar penelitian dari embiro ayam.Percobaan transplantasi ayam oleh Berthold tahun 1849 adalah awal sebuah bidang ilmu yang rumit disebut endokrinologi, dan eksperimen Peyton Rous dengan ayam tahun 1911 yang pertama mendemonstrasikan peranan sebuah virus dalam penyakit tumor.
Si ekor panjang bisa juga memberikan suatu konstribusi bagi ilmu pengetahuan.

Para peneliti masih perlu banyak mempelajarinya

Banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.
Bagaimana sel spesial di folikel bulu Onagadori merespon hormon-hormon yang bersirkulasi di darah ayam?
Apakah yang akaan terjadi dengan sel-sel spesial ini jika mereka transplantasikan di jaringan ekor embrio dari ayam betina atau ayam jantan lokal?
Proses perubahan bentuk bulu ayam-gugurnya secara periodik dari bulu ekor-masih menyodorkan teka-teki utama mengenai fisiologi ayam.
Saya percaya kita harus melakukan usaha keras untuk menyelamatkan semua varitas ayam berekor panjang sehingga gen ayam tersebut dapat dilestarikan bagi keturunan dimasa mendatang.
Sementara ini, penghargaan utama bagi pelestarian dan pengembangan  ayam berekor panjang jatuh pada para penggemar ayam ini di Jepang.
Melewati  usaha mereka dengan tekun merawat Ayam Onagadori, jenis ini akan terus berjaya-bahkan mempesona-para wisatawan yang bersusah payah meluangkan wakunya untuk melihat ayam yang berdiri megah ini dengan ekornya yang sangatlah panjang.

Source : Frank X Ogasawara Ph.D Photographer Eiji Miyazawa, Black Star

Sejarah Sabung Ayam Di Nusantara Bukan Sekedar Permainan Semata

Sabung Ayam di Bali 1915 (Koleksi http://www.kitlv.nl)

Adu Ayam Jago atau biasa disebut sabung ayam merupakan permainan yang telah dilakukan masyarakat di kepulauan Nusantara sejak dahulu kala. Permainan ini merupakan perkelahian ayam jago yang memiliki taji dan terkadang taji ayam jago ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing. Permainan Sabung Ayam di Nusantara ternyata tidak hanya sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tetapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, budaya maupun politik.

Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berasal dari folklore (cerita rakyat) Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam. Ayam Cindelarasdiadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dengki sang selir.

Sabung ayam juga menjadi sebuah peristiwa politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh saat menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya adalah pertunjukan sabung ayam. Peraturan yang berlaku adalah siapapun yang akan masuk kedalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelum Anusapati berangkat ke arena sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati menasehati anaknya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya jika ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tetapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya. Pada saat itu diarena terjadi kekacauan dan akhirnya peristiwa yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi dimana kekacauan tersebut merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri. Kemudian jenasah Anusapati dimakamkan di Candi Penataran dan kejadian itu tetap dikenang orang, Anusapati adalah kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung sedangkan Tohjaya adalah anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan memiliki kesukaan menyabung ayam. Memang dalam cerita rakyat terutama Ciung Wanara mengisahkan bahwa keberuntungan dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh kalah menangnya ayam di arena sabung ayam, begitu juga Anusapati bukan kalah dalam adu ayam tetapi dalam permainan ini ia terbunuh.

Sedangkan di Bali permainan sabung ayam disebut TajenTajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain. Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

Tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200.

Serupa dengan berbagai aktivitas lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pedoman yang bersandar pada dasar sastra. Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya pun banyak disebut dalam berbagai lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menyebutkan, dalam tilem kesanga (saat bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali). Bathara Siwa mengadakan yoga, saat itu kewajiban manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilaksanakan Nyepi sehari. Yang diberi kurban adalah Sang Dasa Kala Bumi, karena jika tidak, celakalah manusia di bumi ini.

Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan kelengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.

Dalam kebudayaan Bugis sendiri sabung ayam merupakan kebudayaan telah melekat lama. Menurut M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Hingga Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.

Dalam kitab La Galigo diceritakan bahwa tokoh utama dalam epik mitik itu, Sawerigading, kesukaannya menyabung ayam. Dahulu, orang tidak disebut pemberani (to-barani) jika tidak memiliki kebiasaan minum arak (angnginung ballo), judi (abbotoro’), dan massaung manu’ (adu ayam), dan untuk menyatakan keberanian orang itu, biasanya dibandingkan atau diasosiasikan dengan ayam jantan paling berani di kampungnya (di negerinya), seperti “Buleng – bulengna Mangasa, Korona Mannongkoki, Barumbunna Pa’la’lakkang, Buluarana Teko, Campagana Ilagaruda (Galesong), Bakka Lolona Sawitto, dan lain sebagainya. Dan hal sangat penting yang belum banyak diungkap dalam buku sejarah adalah fakta bahwa awal konflik dan perang antara dua negara adikuasa, penguasa semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dan Bone diawali dengan “Massaung Manu”. (Manu Bakkana Bone Vs Jangang Ejana Gowa).

Pada tahun 1562, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara ’massaung manu’. Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam tersebut. Taruhan Raja Gowa 100 katie emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Sabung ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma. Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).

Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’ oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya, tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo, Teko, serta negeri Tellu Limpoe.

Rupanya sabung ayam pada dahulu kala di Nusantara bukan hanya sebuah permainan rakyat semata tetapi telah menjadi budaya politik yang mempengaruhi perkembangan sebuah dinasti kerajaan.

————————————-00000000000000000000———————————————————-

Ayam peliharaan

Ayam peliharaan

foto-mengapa-ayam-jantan-berkokok-di-pagi-hariAyam peliharaan (Gallus gallus domesticus) adalah unggas yang biasa dipelihara orang untuk dimanfaatkan untuk keperluan hidup pemeliharanya. Ayam peliharaan (selanjutnya disingkat “ayam” saja) merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutanyang dikenal sebagai ayam hutan merah (Gallus gallus) atau ayam bangkiwa (bankiva fowl). Kawin silang antarras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul atau galur murni dengan bermacam-macam fungsi; yang paling umum adalah ayam potong (untuk dipotong) dan ayam petelur (untuk diambil telurnya). Ayam biasa dapat pula dikawin silang dengan kerabat dekatnya, ayam hutan hijau, yang menghasilkan hibrida mandul yang jantannya dikenal sebagai ayam bekisar.

Dengan populasi lebih dari 24 milyar pada tahun 2003, Firefly’s Bird Encyclopaedia menyatakan ada lebih banyak ayam di dunia ini daripada burung lainnya. Ayam memasok dua sumber protein dalam pangandaging ayam dan telur.

Sudut pandang tradisional peternakan ayam dalam domestikasi spesies ini termaktub dalam Encyclopædia Britannica (2007): “Manusia pertama mendomestifikasi ayam asal India untuk keperluan adu ayam di Asia, Afrika, dan Eropa. Tidak ada perhatian khusus diberikan ke produksi telur atau daging … ”

 

Sumber:

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Ayam

Macam-Macam Ayam Aduan

Ternak Ayam ~ Sudah pada tahu belum bahwa selain ayam Bangkok yang sering digunakan oleh para tukang sabung ayam, ada jenis ayam aduan lainnya yang tak kalah hebat dari ayam Bangkok tersebut. Postingan saya ini khusus saya buatkan untuk para tukang sabung yang gemar bermain judi dengan ayamnya. Oh iya, untuk anda tukang sabung ayam cepat-cepat berhenti dari hobi anda itu, selain hal tersebut dapat menyiksa ayam anda hal itu juga merupakan perbuatan dosa dalam agama. Nih… saya bagikan kepada anda macam-macam ayam aduan :

Ayam Burma

ayam-burma
Dalam bertarung, jenis ayam petarung yang satu ini punya semangat memenangkan pertarungan yang sangat luar biasa. Gaya bertarung begitu ofensif, menyerang langsung ke arah lawan. Karakter ayam Burma yang kuat, seringkali memberi ide kepada para penggemar ayam petarung untuk mengawinkan ayam Burma dengan ayam Bangkok. Tujuannya supaya dihasilkan keturunan ayam yang membawa karakter induk.

Ayam Filipina

ayam-filipina
Ayam Filipina atau Ayam Saigon adalah ayam dari Filipina yang khas dengan kepala botaknya, ayam ini sangat tahan banting dengan kekuatan pukulan melebihi beberapa ayam petarung lainnya, dapat di bilang ayam ini adalah ayam terkuat dari ayam aduan lainnya ketika menerima pukulan lawan.

Ayam Brazilian

ayam-brazilian
Ayam Brazilian atau Ayam Brazil adalah ayam yang berasal dari negara Brazil di benua Amerika Selatan, yang di mana ayam ini memiliki warna bulu yang khas yaitu cokelat kekuning-kuningan, ayam ini memiliki gaya bertarung yang lincah dan cerdas dalam bertarung.

Ayam Siam

ayam-siam
Hampir mirip dengan ayam Burma, ayam Siam juga memiliki karakter yang pantang menyerah ketika di arena. Ayam ini mempunyai pukulan yang cukup keras dan gaya bertarung paling variatif dibandingkan ayam aduan lainnya.

Ayam Shamo

ayam-shamo
Ayam Shamo dikenal juga dengan julukan Ninja Mini dari Jepang. Dibandingkan ayam aduan lainnya, bentuk fisik ayam Shamo paling atletis. Satu hal lagi, ayam Shamo mempunyai pukulan yang akurat mengenai lawannya.

Ayam Ciparage

ayam-ciparage
Ayam Ciparage adalah ayam petarung asli indonesia yang tepatnya berasal dari desa cimalaya, ciparage karawang, konon ayam ini keturunan ayam dari Adipati Singaperbangsa yang biasa di buat ayam petarung pada jaman kerajaan terdahulu. Ayam ini memiliki akurasi jalu dan kecepatan yang dapat di handalkan. Namun ayam ini sudah sangat sulit untuk di temukan.
sumber: http://blogternakayam.blogspot.co.id/2015/03/macam-macam-ayam-aduan.html

Ayam Cemani

Apakah anda suka memelihara hewan langka? Ayam cemani bisa menjadi pilihan. Ayam unik dengan harga yang cukup mahal ini jarang ditemui. Tidak ada salahnya jika anda mencoba untuk memelihara ayam cemani. Ayam ini banyak dikembangbiakan di temanggung jawa tengah. Keunikan dari ayam ini sendiri memiliki warna yang serba hitam, baik dari warna bulunya, kulit, daging, kaki, kuku. Lidah, jengger dan bahkan darahnya pun berwarna merah kehitaman. Itu merupakan ciri ayam cemani asli.

Ayam cemani ini banyak digunakan orang untuk ritual gaib seperti tolak bala, mengobati orang kesurupan dan sebagainya, maka dari itu ayam ini memiliki harga yang cukup mahal mulai dari 500 ribu bahkan sampai 1 juta rupiah dan disamping itu ayam ini sangat langka karena sangat sulit untuk mengembang biakannya.

Gambar Lidah Jeroan Ayam Cemani Asli Berwarna HitamPermintaan yang tinggi akan kebutuhan ayam cemani ini, masyarakat temanggung sedang mencoba untuk mengembang biakan ayam ini untuk dijadikan sebagai mata pencaharian karena harga jualnya yang cukup mahal dan menguntungkan. Ayam yang berwarna hitam banyak dikait-kaitkan dengan unsur magic yang memiliki kekuatan supranatural, maka bagi orang-orang yang percaya akan hal magic banyak yang berburu ayam ini sehingga ayam ini sangat sulit untuk ditemui seperti ayam-ayam pada umumnya.

Tetapi tidak sedikit orang juga yang mencari ayam cemani ini untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan karena warnanya yang sangat khas dan tidak dimiliki oleh jenis ayam lainnya, sehingga ayam ini merupakan salah satu jenis ayam hias khas Indonesia. Tidak hanya warga lokal yang banyak mencari ayam serba hitam ini, bahkan dari mancanegara pun banyak yang sengaja datang ke temanggung hanya untuk mencari ayam cemani untuk dijadikan sebagai ayam peliharaan.

Gambar Sepasang Ayam Cemani Jago dan Bikang

Asal Mula Ayam Cemani

Apakah anda tahu, darimana asal mula ayam cemani ditemukan dan dikembangbiakan?

Ayam cemani ini pertama ditemukan didaerah kedu, jawa tengah. Untuk itu, ayam ini dulunya dikenal dengan sebutan ayam kedu. Awal mula ayam ini popular yaitu pada waktu pertama kali ditampilkannya ayam ini di pecan raya di kota semarang pada tahun 1926, waktu itu pemili ayam ini bernama Tjokromiharjo, beliau merupakan seorang lurah di desa Kalikuto, Gerabak, Kota Magelang. Pada saat itu, kota tersebut masih kedalam karesidenan kedu. Menurut data yang ada, ayam tersebut juga pernah ikut tampil dalam pameran pekan raya pada tahun 1924, mulai pada saat inu ayam cemani ini hanya dikenal dengan sebutan ayam hitam, namun para panitia pameran tersebut menamainya dengan sebutan ayam kalikuto sesuai dengan daerah pemiliknya yaitu Tjokromiharjo. Namun pada saat itu pemilik ayam menolak dan menamai ayamnya sendiri dengan nama ayam kedu karena ayam tersebut berasal dari karesidenan dan para panitia pu menyetujuinya. Namun ayam cemani atau ayam kedu tersebut sampai saat ini belum ditemukan sejarah yang sesungguhnya, walaupun banyak yang menyimpulkan bahwa ayam ini hasil dari penyilangan.

Keberadaan ayam cemani atau ayam kedu saat ini hampir punah, karena sampai saat ini ayam cemani yang ada di tempat asalnya di desa kedu, temanggung, jawa tengah menurut dari hasil data populasinya pada tahun 1984 tercatat terdapat sekitar 5,000 ekor lebih, namun pada akhir tahun mengalami peningkatan hingga mencapai 8,500 ekor lebih. Namun saying, pada tahun 1997 populasi ayam ini merosot tajam hanya sekitar 2,000 ekor. Menurunnya populasi ayam cemani atau kedu pada saat itu dikarenakan wabah penyakit unggas, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat dalam memelihara dan menangkal wabah penyakit atau hama tersebut.

Saat ini ayam cemani dinobatkan sebagai unggas langka dan hampir punah, sehingga keberadaannya sangat sulit dicari.

Mungkin sampai disini dulu pembahasan kali ini mengenai ayam cemani, semoga sedikit ulasan diatas dapat bermanfaat dan sampai jumpa.

sumber : http://infounik.org/ayam-cemani.html

ASAL MUASAL AYAM

Seringkali kita menemui ayam ataupun produk hasil ayam itu sendiri, tanpa mengetahui sejarah ayam. Ayam sudah cukup populer di negeri ini, dari desa sampai kota semuanya sudah mengenal ayam. Daging ayam yang memiliki tekstur lembut, dan harga yang relatif terjangkau menjadi alasan berkembangnya ayam di negeri ini.

ayam-kmpung1Ayam yang kita pelihara atau yang disebut Gallus gallus domesticus merupakan unggas yang biasa dipelihara orang untuk dimanfaatkan untuk keperluan hidup pemeliharanya. Ayam peliharaan ini merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutan merah (Gallus gallus) atau ayam bankiva (bankiva fowl).

Kawin silang antarras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul atau galur murni dengan berbagai macam fungsi, yang paling umum adalah ayam potong dan ayam petelur

Lebih dari 4000 tahun yang lalu, orang – orang yang tinggal di tempat yang sekarang bernama India mendomestikasi ayam hutan lokal yang merupakan asal muasal ayam modern kita. Dari lembah Indus, praktek memelihara Gallus gallus disekitar rumah menyebar ke berbagai daerah. Sekitar 500 tahun SM ayam yang didomestikasi tersebut telah mencapai Korea di timur dan Mediterania di barat. Pada tahun 1000 M, ayam – ayam di besarkan di peternakan di Islandia, Madagaskar, Bali, dan Jepang. 500 tahun kemudian, ketika ayam pertama mencapai Amerika mendarat dari kapal Columbus, ayam hutan yang sederhana menaklukkan dunia.

Semua ayam modern merupakan keturunan dari Gallus gallus dari India, tetapi pada tahapan awal beberapa keturunan dan verietas telah berkembang (semua ayam yang berasal dari keturunan yang sama memiliki bentuk yang sama; varietas dalam keturunan berbeda dalam hal warna bulu ayam).

Orang orang Cina kuno sudah kenal dengan beberapa jenis ayam, dan begitu juga dnegan orang Yunani. Selama ribuan tahun ayam-ayam diternakkan bukan karena kualitas mereka sebagai ayam pedaging (broiler) atau ayam petelur, tetapi untuk semangat berjuang mereka atau nilai mereka sebagai benda yang unik, seperti kemampuan bertarung, keberadaan jengger di kepala, ataupun bulu yang menarik.

Di Asia, peternakan menjamur selama beberapa abad, dan beberapa breed superior telah dikembangkan. Sementara di peternakan ayam Eropa, meskipun tersebar luas, tetap menjadi pekerjaan sampingan. Usaha peternakan unggas, jika ada, lebih diarahkan menuju angsa daripada ayam.

Setelah perang agama yang merusak dan revolusi petani pada abad ke -16, ayam berhenti menjadi pemandangan yang umum di kota-kota Eropa atau halaman peternakan. Kebanyakan orang menghabiskan seluruh hidup mereka tanpa pernah merasakan ayam. Hal ini berubah secara dramatis pada abad ke -18 dan ke -19, ketika pengenalan ternak berkualitas dari Asia secara hebat menstimulasi kepentingan ekonomis dari ayam.

Ayam broiler breeder sekarang ini dikembangkan dari dua sumber keturunan utama. Untuk garis paternal digunakan keturunan White Cornish. Keturunan ini dikembangkan di Inggris abad ke -19 dari ayam aduan Asia. Keturunan White Plymouth Rock, dikembangkan terutama di USA selama paruh pertama abad ke -20, digunakan sebagai sumber garis maternal broiler. Keturunan Cornish pada keadaan aslinya, lebih terspesialisasi pada pertumbuhan otot (dada), sementara ayam betina White Plymouth Rock adalah ayam petelur terbaik dari kedua jenis.

Referensi:

id.wikipedia.org/wiki/Ayam

CP Broiler breeder Guide principles